Selasa, 11 Juli 2017

Belajar dari Penulis Besar

Di kalangan anak muda sekarang banyak yang ingin menjadi penulis besar dan terkenal. Sayangnya, sangat sedikit yang mau mewujudkan cita-citanya menjadi penulis dengan proses dari awal/bawah. Karena ingin cepat-cepat terkenal, beberapa bahkan melakukan tindakan plagiasi atau mengakui karya/tulisah orang lain sebagi karya-nya sendiri
                Masih segar dalam ingatan, beberapa waktu lalu lini masa sempat heboh memperbincangkan remaja putri asal Banyuwangi  bernama asli Asa Firda Inayah atau lebih beken dengan Afi Nihaya. Selain tulisannya yang mengundang pro dan kontra, Afi disinyalir memplagiat tulisan seorang  netizen.
                Terlepas Afi  Nihaya melakukan tindakan plagiasi atau tidak, ada baiknya kalau kita bercita-cita menjadi penulis mengintip proses kreatif  penulis besar seperti  JK Rowling ( Harry Potter ), Enid Blyton ( Lima Sekawan ), Joni Ariadinata ( Sastrawan )
                JK Rowling  sebelum mashur dan terkenal seperti sekarang ini, sejak kecil sudah mulai menulis cerita anak. Saat kuliah, beliau hobi membacakan cerita-cerita dari buku yang dibacanya kepada anak-anak di lingkungan sekitarnya.
                Tahun 1993 JK Rowling mendapatkan ide untuk menulis cerita tentang dunia sihir. Dan baru tahun 1995 setelah mendapatkan penolakan dari beberapa penerbit, akhirnya Harry Potter bisa terbit dalam wujud buku. Tahukah Anda? Baru sekitar tahun 1997 JK Rowling mendapatkan royalti atas buku pertama yang ditulisnya
                Meski belum mendapatkan banyak penghasilan dari bukunya, JK Rowling tetap berkeyakinan kelak bukunya akan dicintai banyak pembaca, terutama anak-anak
                Berangkat dari sinilah, JK Rowling tetap membuat sekuel Harry Potter. Dan keyakinan JK Rowling berbuah manis. Dari mulai buku kedua hingga ke tujuh, seri Harry Poter selalu digemari. Konon, sebelum seri terakhirnya terbit, Harry Potter terjual 270 juta eks di seluruh dunia. Setiap seri Harry  Potter dirilis, selalu ada antrian panjang di toko-toko buku. Bahkan tak sedikit yang membuat tenda penginapan di depan toko buku agar tak terlewat seri terbaru Harry Potter
                JK Rowling yang dulunya sering menangis karena tak bisa memenuhi permintaan anak semata wayangnya, kini jadi penulis terkaya dari royalti buku dan film Harry Potter yang selalu sukses di pasaran
                Masih ingat seri Lima Sekawan? Pengarangnya adalah Enid Blyton. Enid selain menulis  seri Lima Sekawan, ternyata beliau telah menulis 700 novel. Wow..
                Sama seperti  JK Rowling, Enid kecil juga suka membaca dan menulis cerita. Pada umur 14 tahun, Enid sudah mulai mengirim puisi dan cerita ke majalah hingga seratus lebih puisi dan cerita. Tapi kesemuanya ditolak alias gagal total
                Meski begitu, Enid tak patah semangat. Ia terus mengasah kemampuan menulisnya meskipun mendapat pertentangan dari kedua orang tuanya yang menginginkan Enid menjadi musisi. Enid pernah terpuruk ketika ayahnya yang sangat ia cintai meninggalkan rumah demi perempuan lain
                Enid sempat menjadi guru di sebuah Taman Kanak-kanak sembari menyelesaikan kuliahnya. Mungkin karena sering berinteraksi dengan anak-anak di sekelilingnya,  ide-ide menulis  Enid selalu bermunculan. Bagi Enid, Anak-anak adalah laboratarium cerita
                Joni Ariadinata, lahir di Yogyakarta.  Namanya  di kenal sebagai cerpenis, penyair dan sastrawan yang cukup disegani. Mantan redaktur majalah sastra Horizon ini, sekarang menjadi redaktur sastra sebuah penerbit dan media online yang cukup terkenal dari Yogyakarta
                Diawal karir kepenulisannya, Bang Joni, demikian biasa beliau dipanggil pernah menulis dan mengirimkan cerpen tak main-main 500 cerpen. Tapi 500 cerpen yang ia tulis dan kirimkan itu, kesemuanya ditolak.  Andai saja kala itu Bang Joni menyerah, mungkin kita tak mengenal penulis cerpen Lampor ini. Untungnya, Bang Joni kekeuh  menulis dan mengirim cerpen lagi. Dan baru ke 501 cerpenlah, cerpennya dimuat di sebuah harian nasional. Hebatnya, cerpen berjudl Lampor itu, menjadi cerpen terbaik versi harian nasional tahun 1994
                Tentu masih banyak kisah heroik para tokoh/penulis bisa kita jadikan cermin jika ingin menjadi penulis. Sebagai penutup, untuk menjadi penulis besar memerlukan proses yang panjang dan tidak semudah membalikan telalpak tangan. Dan perlu konsistensi.

PENULIS ; SUTONO ADIWERNA, Penulis, Ketua Flp Tegal,  Guru Eskul Menulis, Loper Koran tinggal di Kabupaten Tegal

4 komentar:

  1. selamat ya mas, tulisannya dimuat lagi di media cetak

    benar banyak yg bercita2 menjadi penulis besar tapi enggan memulai dari nol dan bekerja keras untuk ke situ

    saya tahu bang joni waktu blio mengisi kolom di annida versi cetak jamannya saya masih es em pe, tulisan tipsnya bang joni selalu saya tunggu2

    BalasHapus
  2. di annida namanya galerry. ada bukunya juga. aku bisa nulis cerpen

    BalasHapus
  3. Keren Mas, ini di koran tegal? Apalagi bersanding dengan AS Laksana

    BalasHapus
  4. Terimakasih mas Ali..iya ini Radar Tegal. Kadang Radar memuat tulisan/opini yang pernah dimuat di Jawa Post dan gurpnya

    BalasHapus

Entri yang Diunggulkan

Dalam Cahaya Temaram

                Koridor  SMU Tiga mulai senyap. Har melangkah dengan gontai.  Di benaknya masih terngiang-ngiang kata-kata Pak Tugiman se...